Kota Prabumulih kini menjadi sorotan bukan hanya karena prestasi olahraganya, tetapi juga karena sebuah gerakan revolusioner yang diinisiasi oleh para atlet mahasiswanya. Gerakan “Zero Waste Sport” muncul sebagai bentuk tanggung jawab sosial para olahragawan terhadap krisis lingkungan, khususnya tumpukan Sampah plastik yang seringkali mengotori stadion dan fasilitas olahraga lainnya setelah sebuah acara besar berakhir. Mahasiswa di Prabumulih menyadari bahwa menjadi seorang atlet yang hebat berarti juga harus menjadi warga negara yang peduli pada keberlanjutan bumi. Mereka mulai mengubah gaya hidup dan pola operasional dalam setiap kegiatan olahraga demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Langkah awal dari gerakan ini dimulai dengan perubahan kecil namun berdampak besar: penggunaan botol minum atau tumbler yang dapat digunakan kembali. Selama puluhan tahun, air minum dalam kemasan plastik sekali pakai telah menjadi kontributor utama limbah di area olahraga. Atlet mahasiswa di Prabumulih kini secara kolektif menolak penggunaan plastik sekali pakai selama sesi latihan dan pertandingan. Mereka bekerja sama dengan pihak universitas dan pengelola stadion untuk menyediakan stasiun pengisian air minum gratis. Hal ini tidak hanya mengurangi timbulan limbah secara signifikan, tetapi juga memberikan edukasi kepada penonton dan masyarakat luas bahwa prestasi olahraga bisa berjalan selaras dengan etika lingkungan.
Selain botol minum, gerakan ini juga menyasar manajemen logistik acara olahraga. Mahasiswa di Prabumulih mulai mengimplementasikan sistem pendaftaran digital untuk meminimalisir penggunaan kertas. Dalam setiap turnamen, mereka menyediakan kantong pilah limbah di berbagai titik strategis stadion untuk memisahkan limbah organik dan anorganik. Para atlet tidak sungkan untuk turun langsung melakukan aksi bersih-bersih setelah pertandingan berakhir, memberikan contoh nyata kepemimpinan yang rendah hati. Aktivitas ini perlahan mengubah budaya penonton di Prabumulih; mereka yang awalnya acuh kini mulai malu untuk meninggalkan kotoran di tribun karena melihat atlet idola mereka sangat menghargai kebersihan fasilitas publik.
Penerapan konsep ekonomi sirkular juga mulai dieksplorasi dalam gerakan ini. Mahasiswa jurusan teknik dan sains di Prabumulih bekerja sama dengan unit olahraga untuk mengolah limbah plastik yang terkumpul menjadi produk yang bermanfaat, seperti peralatan latihan sederhana atau bangku penonton. Inovasi ini membuktikan bahwa masalah lingkungan dapat diselesaikan dengan kreativitas akademik. Dengan melihat limbah sebagai sumber daya, mahasiswa belajar tentang pentingnya keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan. Gerakan ini juga menarik minat sponsor yang memiliki visi hijau, sehingga memberikan dukungan finansial tambahan bagi kegiatan olahraga mahasiswa di Prabumulih tanpa merusak integritas lingkungan.