Permainan bakiak adalah salah satu olahraga tradisional yang secara mutlak menuntut keselarasan gerak antar pemain. Satu langkah saja yang tidak sinkron dapat menyebabkan seluruh anggota tim jatuh. BAPOMI Prabumulih memanfaatkan karakteristik unik ini untuk mengadakan sebuah workshop yang bertujuan membangun Sinergi di kalangan santri yatim piatu. Melalui kegiatan Kekompakan Bakiak, BAPOMI ingin menunjukkan bahwa keberhasilan dalam sebuah tim sangat bergantung pada kemampuan untuk memahami dan mengikuti ritme orang lain.
Dalam workshop ini, BAPOMI Prabumulih mengajarkan bahwa bakiak bukan sekadar berjalan di atas kayu panjang. Para santri diajarkan untuk saling mengaitkan lengan dan membangun komunikasi non-verbal yang kuat. Instruktur memberikan latihan bertahap, mulai dari belajar berdiri secara bersamaan, hingga melangkah dengan aba-aba “kiri-kanan” yang konsisten. Latihan ini menuntut konsentrasi penuh dari setiap individu, karena satu orang yang tidak fokus akan merusak ritme seluruh tim. Ini adalah simulasi yang sangat brilian tentang pentingnya empati dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.
Sesi workshop berlangsung dengan suasana yang penuh tantangan namun sangat menghibur. Anak-anak yatim sering kali terjatuh atau melangkah tidak beraturan pada percobaan awal, namun hal ini justru memicu tawa dan semangat untuk mencoba kembali. BAPOMI terus memberikan dorongan positif, menekankan bahwa kunci dari keberhasilan adalah kesabaran untuk menyelaraskan diri dengan teman setimnya. Saat tim akhirnya berhasil melangkah secara harmonis hingga mencapai garis finis, rasa bangga dan puas terpancar jelas di wajah setiap peserta.
Selain melatih fisik, workshop ini sangat efektif dalam membangun kepercayaan diri bagi anak-anak yang mungkin selama ini merasa kurang berbaur. Bakiak memaksa mereka untuk berinteraksi lebih dekat, saling mendukung, dan berbagi beban. Proses ini secara perlahan menghancurkan sekat-sekat kecanggungan dan menggantinya dengan ikatan persaudaraan yang kuat. BAPOMI Prabumulih percaya bahwa sinergi yang terbentuk di atas bakiak akan terbawa ke luar lapangan, membuat para santri yatim lebih mudah berkolaborasi dalam tugas-tugas di lingkungan pondok pesantren mereka.
Para pengasuh pesantren memberikan testimoni positif terhadap inisiatif BAPOMI ini. Mereka melihat perubahan yang signifikan dalam interaksi sosial para santri setelah mengikuti workshop. Anak-anak menjadi lebih peduli satu sama lain dan lebih sabar saat bekerja dalam kelompok. BAPOMI Prabumulih sendiri sangat puas melihat keberhasilan program mereka dalam mencapai tujuan pembentukan karakter melalui media olahraga tradisional yang sederhana namun sarat makna ini.