Dalam setiap gaya renang, terutama gaya bebas dan gaya kupu-kupu, bagian tubuh yang memegang peranan paling vital sebagai motor penggerak adalah lengan bawah. Otot-otot fleksor dan ekstensor di area ini bekerja tanpa henti untuk menjaga stabilitas pergelangan tangan dan menghasilkan daya cengkeram air yang kuat. Namun, beban kerja yang repetitif sering kali membuat para atlet mengeluh bahwa lengan bawah capek hingga terasa kaku dan kehilangan tenaga di tengah sesi latihan. Bapomi Prabumulih menekankan bahwa kelelahan pada area ini jika tidak dikelola dengan benar dapat menyebabkan cedera tendonitis yang menghambat karier atlet.
Kelelahan pada lengan bawah sering kali disebabkan oleh penumpukan asam laktat dan mikrotrauma pada serat otot akibat penggunaan alat bantu seperti hand paddles yang terlalu besar atau teknik tarikan yang terlalu tegang. Bagi perenang di Prabumulih, sensasi lengan yang “terbakar” dan berat sering dianggap sebagai tanda latihan yang sukses, padahal itu bisa menjadi indikasi bahwa otot sudah melampaui batas kemampuan pemulihannya. Tanpa intervensi yang tepat, elastisitas otot akan berkurang, dan risiko mengalami cedera persendian tangan akan meningkat secara signifikan.
Mekanisme Kelelahan Otot Lengan pada Perenang
Penyebab utama rasa lelah yang ekstrem ini adalah kontraksi isometrik yang berkepanjangan saat mencoba mempertahankan posisi tangan yang tegak lurus terhadap arah air (high elbow catch). Saat otot berkontraksi terus-menerus, aliran darah yang membawa oksigen menjadi terbatas, memaksa otot bekerja secara anaerobik. Bapomi Prabumulih mencatat bahwa banyak atlet mahasiswa yang kurang melakukan peregangan spesifik pada otot-otot kecil di lengan bawah, sehingga sisa-isisa metabolisme latihan terperangkap di dalam jaringan otot dan menyebabkan kekakuan yang persisten.
Selain faktor fisik, teknik yang kurang efisien juga memperparah kondisi lengan bawah capek. Jika seorang perenang tidak menggunakan kekuatan otot punggung dan bahu secara maksimal untuk menarik air, maka beban kerja akan berpindah sepenuhnya ke lengan bawah yang ukurannya jauh lebih kecil. Inilah sebabnya mengapa sinkronisasi otot seluruh tubuh sangat penting diajarkan oleh para pelatih di bawah naungan Bapomi agar beban kerja terdistribusi secara merata.